CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Showing posts with label scary story. Show all posts
Showing posts with label scary story. Show all posts

Thursday, 28 April 2016

SCARY PHONE NUMBERS

Retold and translated by : Lilac
Source : scaryforkids

Sebelumnya ane ingatkan, JANGAN SEKALI-KALI menelpon nomor2 di bawah ini, atau tanggung sendiri akibatnya.


666-666-6666 ATAU 1-666-666-6666

Selama bertahun-tahun, banyak orang di dunia yang menerima pesan aneh dari nomor telpon 666-666-6666 atau 1-666-666-6666. Banyak orang beranggapan bahwa ini adalah nomor telpon iblis. Dalam beberapa kejadian, nomor telpon ini bahkan tidak terdaftar.

“Suatu malam, kami akan pulang ke rumah dengan mobil. Kemudian teman kami menerima telpon dari (666) 666-6666. Ia tidak mengangkat telponnya, bahkan ia malah bercanda, katanya iblis sedang menelponnya dari neraka. Beberapa menit kemudian, ia menerima pesan suara. Ini merupakan pesan suara teraneh yang pernah aku dengar. Pesannya terdengar seperti suara yang menggema dan suara statis di belakangnya. Kami kehabisan kata-kata dan sangat ketakutan. Namun pesan itu terhapus beberapa jam kemudian, dan pesannya tidak pernah terdaftar di telponnya.


999-9999

Menurut urban legend di Thailand, 999-9999 adalah nomor telpon yang dikutuk. Jika kamu menelponnya dan membuat permintaan, permintaanmu akan dikabulkan. Namun setelah itu kamu akan mati karena kecelakaan aneh.


RED NUMBERS

Di Pakistan, orang-orang selalu mengingatkan agar tidak menerima telpon dari nomor yang berwarna merah pada layar HP kita. Mereka bilang bahwa nomor itu merupakan “Nomor Terkutuk” atau “Telpon Kematian”. Jika kamu menjawab telponnya, kamu akan mendengar suara sinyal berfrekuensi tinggi yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otak, dan membunuhmu seketika. Dikabarkan puluhan orang tewas setelah menerima telpon dari nomor mengerikan itu.


090-4444-4444

Di Jepang, nomor 090-4444-4444 dikenal sebagai “Nomor Telpon Sadako”. Jika kamu menelpon nomor tersebut, kamu akan mendengar suara aneh dan menyeramkan. Katanya, orang yang menelpon nomor tersebut akan meninggal dalam kecelakaan mengerikan dalam waktu satu minggu. Di Jepang, nomor 4 (shi) terdengar seperti kata “mati” (shi). Sadako adalah hantu dalam film The Ring, jadi mungkin saja nomor ini sengaja di setting untuk mempromosikan film tersebut.


0888-888-888

Orang Bulgaria percaya bahwa nomor 0888-888-888 adalah nomor terkutuk. Katanya, siapapun yang mempunyai nomor tersebut akan mati secara mengerikan. Orang pertama yang memiliki nomor tersebut mati karena kanker ganas. Orang kedua mati karena tertembak di jalan.  Oleh karena itu, perusahaan telpon seluler (Mobitel) memutuskan untuk menyimpan nomor tersebut . sejak saat itu, siapapun yang menelpon ke nomor tersebut, hanya akan mendengar, “Nomor yang Anda tuju berada di luar jaringan”.


1-000-000-0000

Di beberapa negara Asia, banyak orang percaya bahwa nomor ini terkutuk. Jika kamu menelponnya, kamu akan mendengar suara pria yang menyuruhmu untuk memberitahu 15 orang tentang nomor telpon ini. Jika kamu melakukannya, kamu akan mati.


666

Di Amerika Serikat, ada urban legend yang menceritakan tentang nomor 666. Katanya, jika kamu menelponnya, kamu akan berbicara dengan iblis.

“Semua temanku telah mencobanya, dan hasilnya berbeda-beda… beberapa bilang tidak terjadi apa-apa, ada yang bilang mereka mendengar musik yang mengerikan, yang lain bilang mereka mendengar suara setan.”


1 (207) 404-2604


Nomor ini sengaja disetting untuk mempromosikan film horror “Carrie”. Di akhir trailer film tersebut, muncul nomor ini dan kata-kata “Telpon Carrie”. Saat kamu menelponnya, akan ada 3 nomor berbeda menelponmu kembali dengan pesan mengerikan. Pertama adalah teriakan yang mengerikan, kedua adalah nyanyian yang menyeramkan, dan ketiga adalah bisikan mengerikan.

Monday, 26 August 2013

Restless Leg Syndrome




Kakekku menderita restless leg syndrome (sindrom kaki gelisah à WTF?!). Paling tidak itulah yang ia bilang padaku selama beberapa tahun ini. Ia jarang tidur nyenyak malam hari. Kakinya sakit sekali dan ia terus bangun dan berjalan-jalan untuk mengatasi rasa sakitnya.

Nenekku bilang, kondisi kakekku sudah begini sejak ia kembali dari perang. Pada hari ia kembali, nenekku menjemputnya di stasiun. Kakekku berjalan pincang saat turun dari kereta dan terjatuh ke pelukan nenekku. Nenekku bilang, kakekku selalu menolak untuk menggunakan tongkat, bagaimanapun sulitnya ia berjalan.

Pada suatu malam gelap dan hujan, kakek tertatih-tatih turun ke koridor, menuju kamarnya. Aku berjalan di belakangnya untuk menjaganya agar ia tidak jatuh. Tiba-tiba, ada petir. Saat itulah aku pertama kali melihatnya. Sepertinya aku melihat sesosok bayangan yang bercokol di kaki kakekku.

“Apa itu?” tanyaku waspada.

Ketika ia sampai ke kamarnya dan menyalakan lampu, aku tidak melihat apa-apa disana.

“Apa yang ada di kaki kakek?” tanyaku lagi. “Sepertinya aku melihat sesuatu… Cuma beberapa detik…. Sesuatu yang aneh… itu apa?”

“Sepertinya sudah waktunya aku memberitahumu,” kata kakekku sambil berbaring di ranjangnya. “Ini bukan Restless leg syndrome. Hal ini terjadi selama perang. Pada tahun 1942, aku ditempatkan di New Guinea (papua nugini?). Aku melihat hal-hal mengerikan… hal-hal yang buruk sekali… hal-hal yang dapat membuatmu mual. Hampir semua orang yang ikut perang mencoba melupakannya… Kau harus mencoba membuang memori itu dari pikiranmu. Kau mencoba untuk tidak memikirkannya. Aku sudah mencoba melupakannya, tetapi tidak bisa. Bahkan hanya seharipun tidak bisa. Aku terkutuk, kau lihat … kutukan yang harus kutanggung seumur hidupku sebagai sebuah pengingat.”

“Kami mendarat di Papua Nugini, kami semua masih baru dan tidak berpengalaman. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi. Kami membangun kemah di selatan pulau dan orang-orang lokal, orang-orang Papua, membantu kami mengurusi perbekalan. Ada seorang anak kecil yang sering bermain di kemah kami. Ia mungkin berumur 5 atau 6 tahun. Aku bahkan tidak ingat namanya.”

“Bahasa inggris yang ia tahu hanya Yes dan No. sepertinya ia kagum dengan para prajurit dan seragamnya. Ia akan berlari untuk mengajak para prajurit untuk bermain dengannya. Dengan adanya tentara Jepang di tanah Papua, hal itu sangat berbahaya baginya, sehingga kami selalu menakutinya. Tidak peduli apapun yang kami lakukan, anak kecil itu selalu kembali lagi.”

“Suatu hari, tentara Jepang menyerang kami. Kami kalah jumlah dan mereka sudah dekat dengan posisi kami. Aku bangun karena suara teriakan dan jeritan diluar tendaku. Pada saat itu kacau sekali. Suara tembakan terdengar dimana-mana. Saat itu terjadi pertempuran jarak dekat. Aku ketakutan. Aku bangun dari barakku, mengambil senjata dan bergegas keluar untuk bertempur.”

“Di kegelapan, aku merasakan ada sesuatu yang melilit di kakiku. Aku tidak tahu itu apa. Yang kutahu hanyalah aku harus berada di posisiku secepatnya. Teman-temanku membutuhkanku. Apapun itu, ia terus berpegangan pada kakiku. Aku hampir tidak bisa menggerakkan kakiku. Saat itu gelap gulita dan aku sangat ingin melepaskan genggamannya. Aku memukulkan bagian belakang senapanku ke bawah untuk melepaskan genggamannya.”

“Tiba-tiba, ada kilat dan menyinari tenda sekejap. Aku melihat kebawah dan aku melihat matanya ketakutan melihat ke arahku. Wajahku pucat. Aku telah memukul kepalanya. Karena ketakutan, anak Papua kecil itu berlari ke tendaku dan memeluk kakiku. Aku melihat matanya perlahan berputar ke belakan ketika ia menghembuskan napas terakhirnya… tetapi ia tidak melepaskannya. Ia tidak pernah melepaskannya… ia tidak akan melepaskannya….”

Retold and translated by : Sella Chang

Source : scaryforkids.com

Sunday, 4 August 2013

School Desk





Di Korea Selatan, para orangtua membebani anaknya untuk belajar giat dan baik di sekolah. Ada satu siswi yang orangtuanya sangat keras kepadanya. Mereka memaksa anaknya untuk belajar selama tujuh hari dalam seminggu dan ia jarang di perbolehkan keluar untuk pergi dan bersenang-senang dengan temannya. Mereka bahkan membelikan sebuah bangku sekolah tua sehingga ia dapat belajar lebih baik dirumah.

Setelah beberapa hari, siswi ini mulai menghadapi masalah. Bukan karena pelajarannya sulit, tetapi punggungnya mulai sakit ketika ia duduk di bangku tersebut lebih dari beberapa menit. Rasa sakitnya semakin menjadi dan ia tidak bisa belajar dengan baik. Nilainya mulai turun dan orangtuanya mulai khawatir.

Ibunya membawanya ke beberapa dokter, tetapi tidak ada yang menemukan sesuatu yang salah dengan punggungnya. Mereka bilang mungkin itu karena stress. Hal yang aneh adalah siswi ini dapat belajar tanpa masalah ketika disekolah, tetapi ketika ia pulang dan duduk di bangku, ia mulai merasakan sakit di punggungnya.

Nilai siswi ini makin turun, ibunya mulai putus asa untuk menghadapi masalah anaknya. Ia bahkan berkonsultasi pada cenayang dan paranormal dengan harapan mereka dapat menyembuhkan anaknya. Sayangnya, tidak ada satupun yang dapat membantu.

Bagaimanapun juga, suatu hari ibunya mengobrol dengan temannya. Temannya berkata bahwa mungkin ada yang salah dengan postur tubuh anaknya. Ia memberitahu ibu siswi ini untuk mengambil foto saat anaknya belajar di bangkunya.

Ibunya pulang kerumah dan mengambil kamera di lemari. Siswi ini duduk di bangku sekolahnya dan ibunya mengambil kamera. Ketika ia melihat fotonya, ia ketakutan.

Anaknya sedang duduk di bangku sekolah tua itu, tetapi diatasnya, ada gadis lain yang menggantung lehernya dengan jeratan tali. Hantu itu mencoba untuk menaruh kakinya ke bahu anaknya.

Esok paginya, ibunya pergi kesekolah dimana ia membeli bangku tersebut dan menginterogasi kepala sekolah. Akhirnya ketahuan bahwa gadis misterius di foto tersebut adalah mantan siswa disekolah. Gadis itu dulu duduk di bangku tersebut. Ia tidak tahan dengan beban di sekolah dan gantung diri di kelasnya beberapa tahun yang lalu.


translated by : Sella Chang
source : scaryforkids.com

Last Train





Tahun lalu, teman-teman kerjaku mengadakan pesta malam tahun baru di kota. Ketika pesta sudah selesai, aku pulang dengan kereta terakhir. Aku duduk di tempat dudukku dan melihat lampu kota dari jendela.

Setelah beberapa saat, aku hanya melihat satu orang di gerbong yang memakai trenchcoat hitam. Ia duduk beberapa baris di depanku dan kepalanya menunduk. Ia sepertinya tertidur. Aku juga agak mengantuk dan mataku mulai berasa berat. Tak berapa lama aku pun tertidur.

Beberapa saat kemudian, aku tiba-tiba bangun karena guncangan kereta. Ketika aku membuka mataku, sesuatu berasa berbeda. Aku tidak yakin, tetapi sepertinya pria dengan trenchcoat hitam itu lebih dekat satu baris denganku. Kupikir aku hanya berimajinasi saja dan memutuskan untuk tidak paranoid. Tidak lama kemudian aku tertidur lagi.

Kemudian, aku merasa aneh dan tidak nyaman. Aku membuka mataku dan kali ini, pria itu sepertinya berpindah lebih dekat denganku. Tetap saja aku belum yakin.

Aku memutuskan mencoba dan melihat apakah kecurigaanku benar. Rencanaku adalah aku berpura-pura tertidur lagi, tetapi sedikit membuka mata, hanya untuk melihat apa yang akan dilakukan pria itu.

Ia hanya duduk disana, tidak bergerak samasekali. Aku bisa merasakan matanya memandangku, tetapi ia sama sekali tidka bergerak. Barusaja aku merasa lega, aku mendengarnya bergumam. Aku mendengarkan dengan seksama, aku menyadari apa yang ia bicarakan lagi dan lagi.

“Jangan tertipu. Ia hanya berpura-pura…. Jangan tertipu. Ia hanya berpura-pura….”

Darahku membeku. Jantungku mulai melompat dari dadaku. Daripada aku ketakutan, aku memutuskan untuk tetap tenang, berpura-pura tertidur dan berharap kereta cepat-cepat mencapai stasiun.

Akhirnya kereta berhenti dan pintunya terbuka, aku menunggu kesempatan yang tepat. Ketika pintu hampir tertutup, aku bangun dari kursiku dan bergegas ke peron.

Aku mendengar pintu tertutup dibelakangku dan akupun berbalik. Ketika kereta pergi dari stasiun, aku melihat pria degnan trenchcoat hitam berdiri, wajahnya ditekan di jendela. wajahnya menunjukkan kemarahan dan di tangannya, ada pisau yang berkilat.


translated by : Sella Chang
source : scaryforkids.com

Korean Girl





 Seorang gadis kecil berusia 11 tahun bernama Yumi hidup dengan ayah dan ibunya di sebuah desa kecil di Korea. Suatu hari, ia baru pulang sekolah. Ia harus melewati perjalanan yang jauh dan ketika sampai dirumah, Yumi sangat haus.

Ia pergi ke dapur untuk minum dan mengambil gelas dari lemari

Tiba-iba ia menghentikan jalannya.

Di pojok dapur, terbaring mayat ibunya.

Yumi menjatuhkan gelas dan berteriak ketakutan.

Pada saat itu, ayahnya keluar dari kamar.

“Yumi, tolong dengarkan dan tenanglah,” katanya. “Ibumu berencana untuk kabur dan menelantarkan kita. Ia selingkuh dengan pria lain. Aku berusaha berbicara dengannya… aku bilang padanya kau akan sangat kecewa jika dia pergi, tapi ia tidak mau mendengarkan… Kami bertengkar. Semuanya berjalan begitu cepat, ia jatuh dan kepalanya terbentur. Aku minta maaf.”

Ia duduk di meja makan, tangannya memegang keningnya dan mulai terisak tidak terkontrol.

Benar-benar situasi yang mengejutkan. Yumi berusaha untuk menerima semuanya. Ia ingin menangis tetapi ia harus kuat. Ia harus tetap tenang. Ia harus berpikir.

Apa yang akan terjadi jika ayahnya dipenjara? Ia tidak punya keluarga lagi. Ia baru 11 tahun. Pihak berwenang pasti akan mengirimnya ke panti asuhan.

Sudah jelas apa yang akan dilakukannya. Ia tidak punya pilihan lain.

Sambil menggigit bibirnya, ia memutuskan untuk tidak melaporkan ayahnya ke polisi. Lagipula, itu semua kecelakaan. Ia menyadari bahwa mereka harus menemukan cara untuk mengatasinya.

Ia melihat ayahnya dan mengangguk.

“Kita akan menguburnya sendiri,” katanya pelan. “Jika tetangga bertanya, kita bisa bilang ibu kabur dengan pria lain.”

Ayahnya menaikkan wajahnya dan masih terisak.

Yumi pergi ke kamarnya dan mulai mengganti baju seragamnya. Ketika ia melepaskan bajunya, ia menyadari kopernya berada di ranjangnya. Ketika ia membukanya, ia menemukan semua pakaiannya di tas tersebut, terlipat dengan rapi. Ada selembar kertas kecil di tumpukan paling atas. ia mengenalinya tulisannya. Itu adalah catatan dari ibunya.

Tertulis : “Yumi, aku sudah membereskan barang-barangmu. Kita harus pergi secepatnya. Ayahmu sudah tidak waras.”


translated by : Sella Chang
source : scaryforkids.com

Saturday, 3 August 2013

Losing Face





Sejak aku lahir, saudara kembarku Tommy adalah sahabatku. Kami tidak memiliki hidup yang mudah. Kakak perempuan kami bunuh diri beberapa tahun lalu dan kakak laki-laki kami sedang dalam kondisi yang parah yang disebut “Xeroderma pigmentosum” yang berarti ia alergi terhadap matahari. Ketika ia berusia 10 tahun, Tommy mengalami Alopecia dan kehilangan seluruh rambutnya. Semua orang di sekolah mengejeknya, tetapi ia tidak peduli. Itulah hebatnya Tommy. Ia selalu tersenyum.

Kemudian suatu hari, ketika kami 14 tahun, sesuatu yang buruk terjadi. Kami sedang dalam kelas seni kayu untuk membuat mainan anak-anak. Tommy mengantri untuk menggunakan alat penggiling kayu. Ia baru saja mengiling sebongkah kayu ketika seseorang mendorongnya dari belakang. Ia kehilangan keseimbangannya dan jatuh ke dalam penggiling kayu yang masih menyala. Terdengar suara gilingan dan teriakan kesakitan yang mengerikan. Semuanya memalingkan pandangan. Banyak dari mereka yang menutup matanya, tidak ingin melihat pemandangan mengerikan tersebut. Siapa yang menyalahkan mereka?

Wajah saudara kembarku hancur. Ada banyak darah. Ambulans datang dan ia dilarikan ke rumah sakit. Tommy bertahan hidup, tetapi wajahnya tidak seperti dulu. Ia tidak punya hidung dan mulut. Kelopak matanya juga hilang. Ibu kami bahkan tidak tahan melihatnya. Ayah kami menyuruhnya untuk memakai kantong kertas di kepalanya ketika ia di rumah.

Ejekan malah semakin parah. Anak-anak di sekolah lebih kejam dan tidak punya hati. Mereka menunjuknya, menertawakannya dan memanggilnya dengan nama mengerikan. Mereka tidak punya belas kasihan, tetapi ia masih tersenyum. Bagaimanapun aku tahu bahwa senyumnya hanya topeng. Di dalam hatinya, aku tahu ia menahan kepedihan.

Hampir satu tahun berlalu ketika serangan dimulai. Serangan itu masuk halaman depan koran dan kota kami diselimuti ketakutan. Seorang remaja laki-laki dimutilasi ketika ia tidur di ranjangnya. Lukanya sangat parah sehingga ia masuk ke ICU. Aku melihat foto yang diterbitkan di koran. Foto sebelumnya menunjukkan ia tersenyum melihat kamera dan menggunakan baju seragamnya. Foto sesudahnya membuatku mual. Hidungnya dipotong, satu matanya dicungkil, bibirnya dipotong dan senyum mengerikan terukir di wajahnya.

Aku mengenalnya dari fotonya. Dia adalah anak yang mendorong saudaraku ke penggiling kayu.

“Kau sudah melihat ini?” aku bertanya, menunjuk cerita di koran.

Tommy hanya mengangguk. “Ya,” ia berkata dengan mengangkat bahu. “Sebuah tragedi…”

Beberapa hari kemudian, koran melaporkan kejadian itu terulang kembali. Orang lain ditemukan dimutilasi di tempat tidurnya. Kali ini adalah seorang siswi di sekolah. Kulitnya dikelupas dari seluruh wajahnya. Ia kelihatan seperti bongkahan daging mentah dengan mata.

Hal itu terus terjadi lagi dan lagi. Setiap beberapa hari, anak yang kami kenal pasti di sserang dalam tidurnya dan dimutilasi. Beberapa anak matanya dicungkil, beberapa diukir senyuman sampai pipinya, beberapa  dari mereka hidungnya di potong dan yang lain diukir kata-kata yang jahat di keningnya. Polisi berkata satu-satunya hubungan dari mereka adalah seluruh korban berasal dari sekolah yang sama.

Jika mereka menanyakanku, aku mungkin bisa menunjukkan hubungan yang lain. Mereka semua adalah anak-anak yang membully saudaraku.

Ibuku ketakutan dengan apa yang ia baca di koran. Ia berkata bahwa ada maniak yang kabur dan meminta kami untuk berhati-hati. Tommy hanya melihatnya dengan pandangan jahat dan berkata, “Jangan khawatir. Kami akan baik-baik saja.”

Nada bicaranya berbeda, sepertinya ia tahu sesuatu yang kami tidak tahu.

Pada malam yang sama, aku sedang berbaring di tempat tidurku, aku bangun ketika mendengar suara pintu terbuka. Aku menyelinap dan melangkah pelan-pelan ke koridor. Di bawh tangga berdirilah Tommy. Ia masih memakai piyama, tetapi di tangan kanannya, ia sedang menggenggam pisau yang berlumuran darah.

“Kau habis dari mana?” tanyaku.

Ketika ia mendengar suaraku, ia melihat ke atas dengan kaget. Kemudian wajahnya berubah menjadi seringai lebar.

“Tidak kemana-mana,” jawabnya. “Aku hanya berjalan-jalan.”

Aku tidak mempercayainya seketika. Aku tahu apa yang ia lakukan. Aku berlari ke kamar orangtuaku, berteriak untuk membangunkan mereka.

“Tommy menyelinap keluar malam-malam!” teriakku. “Ia bawa pisau. Pisaunya berlumuran darah.”

Ayahku mendorongku dan turun. Ia mengambil pisau yang berlumuran darah dari tangan Tommy dan melemparnya ke seberang ruangan. Tommy memberontak dan ayahku harus bergulat dengannya. Ia berontak dan berteriak seperti sesuatu datang dari kubur. Ibuku kemudian menelpon polisi dan mereka menahan Tommy.

Polisi mengumpulkan barang bukti. Mereka menangani kasus berat Tommy, tetapi kemudian ketika ia di penjara, ia mengakui semuanya ke psikiater. Orangtuaku kecewa dan putus asa. Mereka tidak mengerti bagaimana anak mereka melalukan hal seperti itu. Akhirnya ketahuan bahwa Tommy menjadi tidak waras karena emosi dan perlakuan dari anak-anak yang mengejeknya. Ia masuk ke rumah mereka pada malam hari dan menghancurkan wajah mereka.

“Aku melakukannya supaya hidup mereka hancur, sama seperti mereka menghancurkan hidupku,” katanya ketika kami mengunjunginya di rumah sakit jiwa.

“Tapi bagaimana kau menghentikan mereka teriak?” tanyaku.
“Obat tidur,” ia menjawab pertanyaanku dengan senyuman. “hanya beberapa tetes dan mereka tidak akan bangun sama sekali.”

Tommy tidak akan keluar rumah sakit jiwa. Ia akan berada disana selama sisa hidupnya dan aku, satu-satunya yang senang dengan itu. Akhir-akhir ini aku sangat sulit tidur. Setiap aku mendengar pintu berderit pada malam hari, aku merinding dan untuk beberapa saat, aku membayangkan Tommy telah pulang ke rumah.

Pesan moral dari cerita ini (ya, ada pesan moralnya juga lho) adalah : Never push someone too far, because sooner or later, one of you will have to fall.

Translated by : Sella Chang
Source : scaryforkids.com