CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Showing posts with label creepy story. Show all posts
Showing posts with label creepy story. Show all posts

Tuesday, 7 January 2014

Do Not Open


 
Ada seorang gadis berusia 18 tahun bernama Beatrice yang sedang menjalani tahun pertamanya kuliah. Ia tinggal sendirian di apartemen kecil di sekitar universitasnya. Suatu hari, ia sedang mencuci piring setelah makan malam, tiba-tiba teleponnya berbunyi. Ia mengangkatnya dan melihat pada caller ID bahwa itu adalah telepon dari temannya, Peter.

“Hey Pete, ada apa?” tanyanya.
“Tidak ada apa-apa,” balasnya. “Aku bosan dan aku ingin mengajakmu jalan-jalan.”
“Baiklah,” kata Beatrice. “Jemput aku. Kita bisa nonton atau ngapain kek.”
“Oke, aku akan kesana 15-20 menit lagi.” Katanya riang.

Ia menutup teleponnya dan pergi mandi sebelum temannya datang. Setelah 10 menit kemudian, ia sedang keramas, ia mendengar suara ketukan keras di pintu depannya.

Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!

Ia melongok keluar dari kamar mandi, ia berteriak, “Masuklah! Pintunya terbuka!”

Setelah beberapa menit kemudian, gedoran di pintunya terdengar lagi.

Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!

Ia melongokkan kepalanya lagi. “TIdak dikunci! Masuk saja!” Teriaknya.

Kemudian, handphonenya berbunyi. Telpon dari Peter.

Ia mengankatnya dan berkata dengan sebal, “Aku sedang mandi. Kenapa kau tidak berhenti mengetuk dan masuk saja?”

Di seberang sana, suara temannya berbisik dan terburu-buru.

“Jangan buka pintunya!” bisiknya.
Beatrice terkejut. “Kenapa tidak?”

“aku diluar gedung apartemenmu.” Bisiknya. “Aku baru saja melihat wanita aneh naik tangga ke arah apartemenmu. Ia merangkak di dinding dengan tangan dan kakinya…”


Retold and translated by : Sella Chang
Source : scaryforkids.com

Sunday, 29 December 2013

Crematorium

Coffin crematorium



Beberapa tahun yang lalu, pamanku mempunyai mempunyai usaha rumah duka dan aku mendapatkan pekerjaan musim panas, bekerja paruh waktu di krematorium. Memang tidak mengasikkan tetapi aku dibayar cukup besar dan aku membutuhkan uang karena aku adalah pelajar yang miskin. Berurusan dengan mayat memang mengerikan pada awalnya, tetapi setelah beberapa hari, kau akan terbiasa.

Suatu pagi, aku sedang menyapu lantai di krematorium. Datanglah mobil jenazah dan parkir di luar. Seorang pria dengan jas hitam keluar dan pamanku datang berbicara dengannya.

Setelah beberapa saat, paman memanggilku dan aku disuruh membantu untuk membawa peti mati ke krematorium. Aku merasa aneh, karena biasanya mereka membawa peti mati ini ke rumah duka terlebih dahulu, tetapi aku tidak bertanya apapun.

Kami menurunkan peti mati di lantai dan pamanku pergi mempersiapkan oven untuk kremasi. Selama beberapa menit, aku ditinggalkan bersama pria dengan jas hitam. Canggung sekali. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku berasumsi bahwa ia adalah salah satu kerabat yang baru saja mati, tetapi ia tidak terlihat sedih.

Ketika oven sudah siap, aku dan pamanku mengangkat peti mati dan menaruhnya di bangku logam. Kami membuka bagian atas peti mati tersebut, aku melihat mayat di dalamnya adalah seorang pria sekitar 30 tahunan. Biasanya mayat sangat pucat, tetapi wajah mayat ini merah muda.

Pamanku menyalakan api, kemudian menekan tombol untuk memulai pita transportnya. Peti mati itu bergerak secara perlahan masuk ke dalam oven. Ketika semuanya sudah masuk ke dalam oven, pamanku menutup pintunya dan aku berdiri di sekitarnya, menunggu. Biasanya memakan waktu satu jam sebelum semuanya terbakar dan menjadi abu. Setelah itu, aku harus mengumpulkan abunya dan menaruhnya di sebuah kendi, kemudian diberikan kepada keluarganya.

Pamanku dan pria berjas hitam pergi ke rumah duka di sebelah. Sepertinya mereka sedang mengisi berkas-berkas seperti biasa. Aku ditinggal di krematorium, untuk melanjutkan menyapu.

Setelah sekitar 10 menit, aku mendengar suara aneh dari oven. Seperti suara mengetuk samar-samar. Awalnya kupikir ini hanyalah imajinasiku, tetapi suara itu berubah menjadi suara gedoran keras. Aku berkata pada diri sendiri bahwa itu hanyalah suara logam yang terkena panas.

Bang! Bang! Bang! Bang!

Tidak salah lagi, itu adalah suara seseorang menggedor dengan putus asa dan mencoba keluar.

Aku merinding dan sapu terlepas dari peganganku. Aku yakin pria di dalam masih hidup. Aku ketakutan, aku berlari ke rumah duka dan sambil gemetar, aku bilang pada pamanku apa yang aku dengar.

Aku menggiring mereka ke krematorium, aku bilang kepada mereka untuk mendengarkan baik-baik.

Bang! Bang! Bang! Bang!

“Aku tidak mendengar apapun,” kata pamanku.

Bang! Bang! Bang! Bang!

“Aku juga tidak,” kata pria berjas hitam.

Aku memandangi mereka, kaget dan bingung. Aku bahkan mulai meragukan kewarasanku sendiri. Pamanku dan pria itu mengangkat bahu dan kembali ke rumah duka. Aku hanya berdiri di tengah krematorium, mendengarkan lagi.

Aku tidak tahu bagaimana untuk membuka pintu oven secara aman dan bahkan jika aku membukanya, aku takut dengan apa yang aku lihat di dalamnya. Setelah 10 atau 15 menit di tungku pembakaran, bagaimana mungkin seseorang masih bisa hidup?

Perlahan-lahan suara gedoran itu semakin lemah sampai hilang sama sekali. Yang bisa aku dengarkan adalah suara desis dan derak api. Tidak ada suara lagi.

Satu jam kemudian pamanku kembali untuk mematikan oven. Bersama-sama kami mengumpulkan abu dari loyang di bawahnya dan menaruhnya di kendi. Pria itu mengambilnya dan dengan senyum lebar di wajahnya, ia kembali ke mobilnya dan pergi.

Setelah tutup, pamanku memberikanku amplop penuh dengan uang dan menyuruhku untuk tidak membicarakan apa yang aku dengar ke siapapun. Aku tidak pernah berbicara tentang hal itu lagi dan usahanya berjalan seperti biasanya.

Bahkan sampai saat ini, aku masih bermimpi buruk tentang suara gedoran misterius yang aku dengar dari dalam oven.


Retold and translated by : Sella Chang
Source : scaryforkids.com

Tuesday, 3 December 2013

Mmmmmm

Hal ini terjadi di rumah yang aku tempati sekarang ini.

Tempat tinggalku tidak punya sejarah berhantu dan keluargaku sudah tinggal di tempat ini selama beberapa generasi, dan itulah kenapa aku tidak pernah membayangkan sesuatu yang sangat menyeramkan terjadi kepadaku.

Tetapi akhir-akhir ini, kapanpun aku duduk di ruang tengah, siang maupun malam hari, aku selalu mendengar suara wanita bergumam dalam suara rendah : “Mmmmm… mmmm, mmmm….”

Awalnya suara ini terdengar sangat jauh dan aku harus menajamkan telingaku untuk menangkap suara tersebut, tetapi jika dibiarkan, suara tersebut perlahan-lahan menjadi semakin keras dan semakin dekat. “Mmmmm… mmmm, mmmm….”

Jika aku masih terus membiarkannya, suara itu menjadi semakin jelas hingga aku bisa mendengarnya tanpa berkonsentrasi.
“Mmmmm… mmmm, mmmm….”

Jadi yang selalu aku lakukan ketika aku menyadari ada suara ini adalah mengucapkan bagian terakhir dari sutra (hanya inilah bacaan doa yang aku tahu…). Tapi, ktika aku mengucapkan bagian “gyatei gyatei” berulang-ulang, dan setelah aku mengucapkannya, suara tersebut perlahan menghilang.

Di tempat ini, aku tidak pernah berkonsentrasi jika menonton TV. Keluarnya suara gumaman ini tidak menentu, dan jika aku tidak mengucapkan bagian terakhir dari sutra  ketika aku mendengarnya, kadang-kadang suara tersebut sudah masuk ke dalam ruangan. “Mmmmm… mmmm, mmmm….”

Hari berikutnya, album baru dari band favoritku rilis. Aku tidak sabar untuk mendengarnya, jadi saat aku membelinya dari toko, aku sangat bersemangat.

Aku segera pulang ke rumah dan menggunakan headphone untuk mendengarnya. Ketika aku selesai mendengar seluruh lagunya, aku melepaskan headphone dengan puas, dan tiba-tiba, tepat di sebelah telingaku, aku mendengar : “Mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm.”


sumber : sayainunderworld.blogspot.tw

Monday, 14 October 2013

Antique Shop




Sunday
Pada hari minggu ku turut ayah ke kota, aku dan pacarku berjalan-jalan di toko barang antik dan toko barang bekas. Kami berdua adalah kolektor. Pacarku suka mengoleksi mainan antik dan aku suka mengoleksi video game lama. Kami berkunjung dari satu toko ke toko lainnya, tetapi kami tidak menemukan apa yang kami inginkan.

Ketika hari sudah mulai gelap, kami melewati sebuah toko antik kecil yang berada di jalan yang sepi. Ketika kami masuk, kami melihat bahwa tempat itu penuh dengan barang-barang tidak berguna. Mereka sepertinya menjual buku-buku berdebu, baju belel, jam dinding, ornamen, mainan dan berbagai barang lain. Di belakang meja kasir ada seorang pria Cina.

Kami berkeliling selama beberapa menit, tetapi tidak ada yang menarik. Ketika aku sudah ingin pulang, pacarku tiba-tiba berteriak, “Oh! Lihat ini!”

Ia memegang sesuatu yang berbentuk aneh dari logam, ukurannya kira-kira sebesar bola sepak. Barang itu memiliki 20 sisi. Mungkin ini yang disebut ikosahedron.

Inilah titik dimana semuanya dimulai.

“Itu apa?” tanyaku.

“Aku tidak tahu,” balasnya, “tapi ini keren.”

Kami membawa benda itu ke kasir dan pacarku menanyakan berapa harganya.

Ketika pria tua itu melihat benda itu, ekspresi wajahnya berubah. Ia kelihatan terkejut.

“Uh, Oh, ini…” ia tergagap. “Ini… uh…. Ya, berapa harganya ya… Sebentar, sebentar…”

Pria tua itu masuk ke ruang belakang dan kami mendengar ia sedang bertengkar dengan istrinya dalam bahasa Cina. Kami tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tetapi istrinya seperti sangat marah. Ia kembali beberapa saat kemudian, membawa kertas yang sudah menguning.

“Ini adalah mainan yang tidak biasa,” katanya, sambil menyerahkan kertas itu ke arah pacarku. “Namanya Rinfone.. Kau bisa baca disitu, semuanya ada dikertas itu.”

Di kertas itu, terdapat instruksi yang ditulis dengan tangan dan terdapat beberapa gambar. Disitu juga terdapat beberapa simbol aneh. Kertas itu menunjukkan bahwa benda itu dapat dibuat dalam tiga bentuk berbeda. Pada suatu ilustrasi, benda itu berbentuk beruang, burung dan ikan. Sepertinya ini adalah sebuah mainan transformasi kuno.

“Oh! Keren!” kata pacarku dengan ceria ketika ia mengambilnya dan kemudian mulai memainkannya. “Ini seperti puzzle.”

“Kau suka?” tanya pria tua itu. “Aku memberi harga khusus. 100 dolar saja.”

Pacarku jago menawar, ia mencoba menurunkan harga barang itu.

Akhirnya ia berkata, “Oke, oke, itu tidak adil buatku, tapi okelah. 80 dolar saja. Sepakat.”

Kami meninggalkan toko tersebut dan pacarku berseri-seri, senang dengan barang yang dibelinya. Saat kami akan pulang, kami berhenti disebuah restoran dan makan malam.


Senin
Ketika aku pulang dari kerja, pacarku menelepponku. Yang ia bicarakan hanya mainan barunya.

“Keren sekali,” katanya. “Aku suka sekali puzzle Rinfone ini. Aku tidak bisa meninggalkannya barang sebentar. Bahkan pada saat bekerja. Aku mencoba membuatnya agar berbentuk binatang. Mainan ini lebih bikin ketagihan daripada video game bodohmu.”

Setelah ia menutup telepon, ia mengirimiku fotonya yang sedang memegang benda itu. Benda itu punya kepala dan dia kaki, kelihatannya seperti beruang.

Aku mengiriminya SMS, “uh… keren.”



Selasa
Keesokan harinya, aku pulang dari kerja, ia meneleponku lagi.

“Serius deh, ini keren!” teriaknya. “Aku semalaman bermain ini dan kurang tidur. Aku akhirnya membentuk beruang. Kau harus melihatnya!”

“Mungkin besok,” kataku. “Aku capek. Aku Cuma ingin pulang dan tidur. Kau juga harusnya begitu.”
“Uh.. ya… terserah,” balasnya. “Selanjutnya aku akan mencoba membuat Rinfone menjadi burung.”


Rabu
Ketika aku selesai bekerja, aku mengirim SMS ke pacarku.
“Hai sayang, apakah kau cukup tidur? Sepertinya aku akan datang melihatmu malam ini.”

Ia membalas, “Maaf, tidak bisa. Sibuk.”

Aku membalasnya lagi, “Sibuk kenapa?”

Ia tidak membalas sampai sekitar jam 11 malam.

SMS nya berbunyi, “Sibuk dengan Rinfone.”

Ia kemudian mengirimkan gambar dirinya bersama mainan itu. Bentuknya sekarang seperti elang dengan sayap yang terentang. Kelihatan sangat nyata. Aku bahkan mengira elang itu akan mengepakan sayapnya.


Kamis
Pada malam kamis, ketika aku sedang mandi, telponku berbunyi. Ternyata dari pacarku.
“Yu-kun, kau menelponku tadi?” tanyanya.

“Tidak, kenapa?” tanyaku.

“Aku tadi dapat telepon dan berisik sekali suara dibelakangnya, seperti seseorang yang sedang berjalan di sekitar kota.. dan aku mendengar suara-suara teriakan. Kemudian dia menutup teleponnya. Aneh. Kau tahu kan, jika kau mendapat telepon, nomor orang itu akan muncul di layar atau private number?”

“Ya?”

“Kali ini, di layarku tertulis ‘Alam baka’… aku takut…”

“Itu aneh,” kataku. “Kau mau aku ke tempatmu?”

“Tidak usah,” balasnya. “AKu matikan saja telponku dan tidur.”

“Mungkin itu hanya salah sambung atau seseorang memencet  nomormu tanpa sengaja.”

“Ya, terserahlah,” katanya. “AKu sedang membuat ikan sekarang. Nanti ku telpon lagi.”

Ia menutup telponnya sebelum aku bisa berkata-kata lagi.


 Jumat
Pada hari jumat, aku langsung datang ke rumah pacarku setelah pulang kerja. Ia hampir selesai mengubah RInfone menjadi bentuk ikan.

“Aku dapat telpon aneh lagi pada saat makan siang,” katanya. “Ketika aku menjawabnya, aku mendengar banyak pria dan wanita yagn berteriak sesuatu. Aku langsung menutupnya.”

“Mungkin seseorang sedang mengerjaimu,” kataku. “Atau mengkin handphonemu rusak.”

Ia mengangkat bahu dan mulai bermain lagi dengan mainannya, memutar dan membalik benda tersebut. Ia berkutat dengan benda itu selama beberapa jam, tetepi ia tidak bisa menyelesaikan bentuk ikan tersebut. Akhirnya ia kecapean dan tidur.

Malam itu, aku mimpi buruk. Aku sedang berada di gang gelap dan ketika aku melihat kebawah, aku melihat pria dan wanita telanjang yang mencoba memanjat jurang besar. Mereka mengejarku dan aku mencoba untuk melarikan diri dengan memanjat tebing itu. Ketika aku hampir mencapai atas, hampir selamat, aku merasa ada yang memegang pergelangan kakiku. Wanita itu berteriak, “Bawa aku bersamamu!”

Aku bangun dengan berkeringat dingin. Pada saat itu sudah jam 5 dan aku tidak bisa tidur lagi. Aku hanya berbaring di tempat tidur, jantungku berdebar-debar, memikirkan mimpi apa aku tadi.


Sabtu
Pada hari sabtu, aku dan pacarku pergi ke toko handphone. Mereka mengecek telpon pacarku, tetapi tidak ada yang rusak. Kemudian ia ingin pergi ke paranormal. Ada seorang wanita yang disebut “Cat Lady (wanita kucing)” dan ia sangat terkenal karena kemampuan meramalnya. Kami menghubunginya dan berjanji bertemu dengannya besok.


Minggu
Pada minggu pagi, kami pergi ke rumah Cat Lady. Anaknya membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. Lorong rumah itu penuh dengan kucing dan ketika mereka melihat kami, mereka mulai menggeram dan berlari. Aneh sekali.

Anak itu kemudian mengantarkan kami ke sebuah ruangan di bagian belakang rumah, dimana Cat Lady sedang duduk. Ia dikelilingi oleh kucing-kucingnya.

Wanita tua itu berteriak pada anaknya dengan suara keras, “Keluar dari sini!”

Hal itu mulai menakutiku. Kami duduk di meja dan Cat Lady mulai memperhatikan kami.

“Alasan kenapa aku memelihara kucing adalah karena mereka sensitif terhadap hal-hal tertentu,” katanya. “Kucing dapat memilih orang jahat dan orang baik. Mereka memberitahuku masa depan yang aku harus baca. Ini pertama kalinya mereka bereaksi kuat….”

Kami memberitahu paranormal tersebut tentang kejadian seminggu lalu… semuanya tentang telpon aneh dan mimpi buruk yang aku alami.

Wanita tua itu menunjuk pacarku.

“Dibelakangmu, aku bisa melihat sesuatu seperti benda berbentuk seperti binatang,” katanya lembut. “Buang sekarang juga!”

Kami bingung, tetapi wanita itu menolak untuk menjawab pertanyaan lagi.

“Sekarang, pergilah,” katanya, ia berbalik kepada kami. “Aku tidak mau berkata apa-apa lagi dan aku tidak mau melihatnya lagi…”

Aku memandang pacarku. Wajahnya pucat dan ia gemetar. Aku tidak mau pergi sampai kami mendapat penjelasan.

“Kenapa?” tanyaku kepada wanita tua itu. “Apakah itu terkutuk? Apa yang salah dengan benda itu?”

Aku tetap bertanya sampai Cat Lady berdiri dari kursinya dan membalikkan wajahnya kepada kami.

“Itu adalah miniatur dari neraka!” teriaknya. “Benda itu adalah gerbang neraka, sekarang buanglah! Pergi dari sini!”

“Tetapi uangnya…” kataku lemah.

“Kau tidak membutuhkannya!” teriaknya lagi.

Wajah wanita tua itu berubah marah dan takut. Itu merupakan hal yang paling mengerikan yang pernah kulihat.

Kami pergi dari rumah paranormal itu dan pulang kerumah pacarku. Aku mengambil Rinfone dan kertas petunjuknya dan membungkusnya dengan koran. Kemudian, melapisinya dengan selotip dan membuangnya ke tempat sampah. Tidak ada hal aneh terjadi setelah itu.


Epilog
Beberapa minggu kemudian, aku mengunjugi pacarku. Ia sedang duduk di depan TV dengan sebuah pena dan kertas di pangkuannya.

“Itu anagram,” katanya. “Rinfone…. Adalah anagram.”

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Aku membolak-balik hurufnya.” Katanya. “Inferno… neraka… aku tidak bisa membayangkan jika aku bisa menyelesaikan bentuk terakhirnya…”

Aku berharap mainan aneh itu masih ada di tempat sampah atau di padang gurun atau dimanapun. Aku berdoa semoga tidak ada orang yang menemukannya.


retold and translated by : Sella Chang
source : scaryforkids.com